Diabetes melitus tipe 2. Dari seluruh penderita diabetes,
jumlah penderita diabetes tipe-2 adalah yangpaling banyak, yaitu sekitar
90-99%. Diabetes tipe-2 juga bisa disebut diabetes life style karena selain
faktor keturunan, juga disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Biasanya, tipe
ini mengenai orang dewasa. Dahulu, diabetes ini pernah disebut adult onset atau
maturity onset diabetes. Namun karena diabetes ini ternyata juga dapat mengenai
mereka yang lebih muda, maka istilah diabetes tipe-2 dianggap lebih cocok
Diabetes tipe-2 berkembang sangat
lambat, bisa sampai bertahun-tahun. Oleh karena itu, gejala dan tanda-tandanya
seringkali tidak jelas. Penderita diabetes tipe-2 biasanya memiliki riwayat
keturunan diabetes. Apabila tidak ada gejala klasik, yang biasa dikeluhkan
adalah cepat lelah, berat badan turun walaupun banyak makan, atau rasa
kesemutan di tungkai. Bahkan terkadang ada penderita yang sama sekali tidak
merasakan perubahan.
Penderita diabetes tipe-2 tidak
mutlak memerlukan suntikan insulin karena
pankreasnya masih menghasilkan
insulin. Mengapa? Pertama, insulin tersebut masih diproduksi, tetapi jumlahnya
tidak mencukupi. Kedua, dan yang terpenting, kerja insulin tidak efektif karena
adanya hambatan pada kerja insulin, seperti disebutkan, istilah medisnya adalah
resistensi insulin.
Sebenarnya resistensi insulin
mendahului terjadinya penurunan produksi insulin. Selama resistensi insulin belum diperbaiki,
pankreas harus bekerja keras menghasilkan insulin sebanyak-banyaknya untuk
dapat menggempur resistensi tersebut agar gula juga bisa masuk. Namun karena
gejalanya minim, maka semakin lama pankreas tidak mampu lagi memproduksi
insulin. Oleh karena itu, obat yang diberikan pada diabetes tipe-2 tidak hanya
obat untuk memperbaiki resistensi insulin, tetapi juga obat untuk membantu
pankreas meningkatkan kembali produksi insulin.
Seperti yang sudah dibahas pada
bab sebelumnya, kegemukan juga merupakan faktor pemicu resistensi insulin atau
diabetes tipe-2, khususnya kegemukan di daerah perut, kurang bergerak, dan
terlalu banyak makan dengan gizi yang tidak seimbang.
Upaya penurunan berat badan,
khususnya lemak tubuh, meningkatkan kepekaan sel akan insulin sehingga gula pun
akan lebih mudah masuk sel yang menyebabkan kadar gula dalam darah akan turun.
Selain itu, energi dapat dibentuk dengan lebih baik.
